Precognitive Dream dan Manusia
Kebanyakan mimpi yang bersifat ramalan ini berkaitan dengan
bencana, perang, pembunuhan, kecelakaan, bahkan kuda pacu yang akan keluar
sebagai pemenang. Namun, kadang hanya berhubungan dengan hal-hal kecil yang
terjadi di kemudian hari.
Oh ya, jika saya berbicara mengenai precognitive dream, saya
tidak sedang berbicara mengenai kemampuan khusus yang dimiliki oleh paranormal.
Saya berbicara mengenai pengalaman yang dialami oleh sebagian besar manusia di
bumi ini, termasuk anda dan saya.
Pada konferensi Association for the Study of Dreams, Robert
Waggoner, seorang psikolog dan peneliti mimpi, mengatakan bahwa precognitive
dream mengabaikan status, jabatan, budaya dan agama. Karena itu, siapa saja di
dunia ini, selama ia adalah manusia dan masih hidup pasti bisa mengalaminya.
Yang berbeda hanyalah intensitas pengalaman tersebut. Sebuah studi yang
dilakukan oleh universitas Baylor menemukan bahwa 52 persen masyarakat percaya
dengan precognitive dream. Bahkan sebuah survei pernah menemukan adanya 66
persen responden yang mengalami precognitive dream yang akurat.
pernah bermimpi
melihat tubuhnya terbaring di sebuah peti mati, dua minggu sebelum
pembunuhannya. Lalu seorang insinyur dari Inggris bernama John Dunne pernah
memimpikan mengenai letusan sebuah gunung api di Perancis yang kemudian menjadi
kenyataan.
Kategori Precognitive Dream
Menurut para peneliti yang sebagian besar adalah psikolog,
tidak semua mimpi yang menjadi kenyataan dapat disebut sebagai precognitive.
Untuk memenuhi syarat sebagai precognitive, maka mimpi yang menjadi kenyataan
itu TIDAK BOLEH memenuhi empat unsur di bawah ini, yaitu :
Menjadi nyata karena probabilitas
Sang pemimpi sudah mengetahui peristiwa tersebut akan
terjadi.
Self fulfilling prophecy
Pengaruh Telepati
Akan saya jelaskan dibawah ini :
Menjadi nyata karena probabilitas. Contohnya, kita membaca
berita bahwa 3 hari lagi akan diadakan demo besar-besaran. Lalu malamnya, kita
bermimpi mengenai demo tersebut dan kita melihat terjadinya aksi lempar-lemparan batu antara
pendemo dengan polisi.3 Hari kemudian, memang ada demo besar-besaran dan terjadi
aksi lempar-lemparan batu. Mimpi kita menjadi kenyataan, namun tidak bisa
disebut precognitive karena probabilitas terjadinya aksi anarki pada demo
sangat tinggi.
Sang pemimpi sudah mengetahui mengenai kejadian tersebut.
Syarat ini memiliki contoh sama seperti di atas. Kita telah
mengetahui akan terjadi demo sebelumnya. Karena itu, ketika kita memimpikannya,
kita tidak bisa menyebutnya sebagai precognitive.
Self fulfilling prophecy
Self Fulfilling prophecy (Ramalan yang dipenuhi sendiri)
adalah sebuah prediksi yang secara langsung ataupun tidak langsung
menyebabkannya menjadi kenyataan.
Misalnya, ada sebuah ramalan palsu yang diberitakan. Namun
ketika ia dideklarasikan sebagai ramalan sejati, maka deklarasi ini mungkin
akan mempengaruhi orang-orang untuk membuatnya menjadi kenyataan.
Contoh paling sederhana adalah rumor.
Misalnya, di masyarakat beredar sebuah rumor bahwa bank
enigmus (misalnya) mengalami kesulitan likuiditas dan mungkin akan ditutup oleh
pemerintah. Padahal kenyataannya bank enigmus sama sekali tidak mengalami kesulitan
keuangan apapun. Rumor itu dihembuskan oleh para pesaingnya untuk menjatuhkan
reputasi bank tersebut. Lalu para nasabah yang jumlahnya banyak menjadi
khawatir dengan rumor tersebut dan segera berbondong-bondong ke bank untuk
menarik simpanan mereka.
Tebak, apa yang terjadi selanjutnya ?
Bank enigmus yang baik-baik saja mengalami kolaps karena
penarikan dana secara besar-besaran. Bank enigmus pun dilikuidasi (atau di bail
out) oleh pemerintah. Dan nasabah pun akan berkata,"Ternyata rumor
tersebut benar !"
Inilah self fulfilling prophecy.
Jadi, Jika kalian memimpikan sebuah peristiwa dan turut
serta dalam menjadikannya kenyataan, maka jelas itu bukan precognitive.
Description:
http://api.ning.com/files/oK1s-v7MLc1ZbDDydRqUq*NnVWkriiUZ-k-xP23qbTCWRQxtU25MNJYSEfb50evyiMauEIt9w7UlySlulAF*Qx2mLkX1GVPc/tearingeye.jpgPengaruh
telepati
Sigmund Freud, bapa psikoanalisa pernah mempelajari hubungan
antara mimpi dan pikiran bawah sadar. Ia pernah berkata "Adalah sebuah
fakta yang tidak terbantahkan bahwa tidur merupakan kondisi yang sangat baik
untuk telepati."
Percaya atau tidak, pernyataan ini terbukti dari banyak
eksperimen. Salah satunya adalah eksperimen yang dilakukan oleh psikiater
Italia bernama GC Ermacora dimana Ia berhasil memberikan pesan kepada seseorang
yang sedang tertidur dan bermimpi.
Jadi, dengan kata lain, mimpi seseorang bisa dipengaruhi
oleh telepati. Tentu saja, jika mimpi yang dialami berasal dari pengaruh
telepati, maka mimpi tersebut tidak bisa dikategorikan sebagai precognitive.
Precognitive Dream dan Tekanan Psikologi
"Para pemimpi yang mendapatkan mimpi precognitive
sering mengatakan bahwa mereka merasakan perasaan yang berbeda ketika
mendapatkan mimpi itu dibanding dengan mimpi biasa." Kata EW Kellog
III.Ph.D.
Mereka juga akan menjadi sangat terganggu. Banyak juga yang
melaporkan perasaan yang sangat nyata setelah terbangun dan bahkan mereka
benar-benar percaya bahwa mimpi itu akan segera terjadi.
Pemimpi yang lain mengatakan bahwa ingatan akan mimpi itu
biasanya melekat terus di dalam pikiran mereka selama bertahun-tahun. Karena
itulah, banyak pemimpi precognitive yang depresi. Mereka ketakutan karena
berpikir bahwa sebuah kecelakaan terjadi karena mereka memimpikannya atau
memikirkannya.
Namun ketakutan ini tidak beralasan karena precognitive
dream TIDAK menyebabkan sesuatu terjadi. Precognitive dream HANYA menerima
informasi mengenai apa yang akan terjadi di kemudian hari.
Siapa yang biasa mengalaminya ?
Hasil uji scan terhadap otak menunjukkan bahwa manisfestasi
precognition berasal dari bagian otak yang mengontrol emosi. Pada individu yang
memiliki emosi yang lebih terkendali, akurasi precognition juga menjadi lebih
tinggi. Studi terbaru juga menunjukkan bahwa individu yang kreatif menunjukkan
akurasi yang lebih tinggi atas uji precognitive. Lalu, pada artikel berjudul
"Time : Exploring the Unexplained", penelitian menunjukkan bahwa
mereka yang secara aktif dan teratur mengikuti disiplin mental seperti yoga dan
meditasi juga memiliki tingkat akurasi precognitive yang tinggi. Dari hasil
studi ini, kita bisa menyimpulkan bahwa pemimpi precognitive jelas bukan orang
gila atau orang aneh, melainkan orang yang memiliki emosi yang terkendali dan
kreatif. Mendengar ini, mungkin kalian akan menjadi sedikit bangga menjadi
seorangprecog dreamer.
Teori-teori precognitive
Precognitive dream adalah sebuah fenomena yang belum bisa
dijelaskan oleh sains secara sempurna. Walaupun begitu, ketertarikan akan
subyek ini telah bermula sejak masa Aristoteles. Pada masa yang lebih modern
sekarang ini, beberapa teori sains lahir untuk menjelaskan, atau paling tidak,
memberikan sedikit gambaran mengenai fenomena ini. Ini diantara teori-teori
tersebut yang saya anggap cukup menarik.
Teori Frekuensi
Sebelum terjadi gempa, hewan-hewan akan berlarian keluar.
Para ilmuwan percaya bahwa pergeseran lempeng bumi telah menciptakan frekuensi
yang dapat ditangkap oleh otak hewan. Bumi, dalam kondisi normal memiliki
frekuensi sekitar 7,83 hertz. Seseorang (atau hewan) yang selaras dengan
frekuensi tersebut dapat merasakan perubahan itu, karena itu mereka berlarian
keluar.
Berdasarkan argumen ini, lahirlah teori frekuensi. Menurut
teori ini, selama bermimpi, pikiran bawah sadar kita mulai terbebas dari
belenggu pikiran sadar dan mulai dapat mengontrol bagian otak yang mengatur
intuisi dan emosi. Dan hasilnya adalah "tune in" dengan frekuensi
yang lain yang menyebabkan terjadinya precognitive dream. Masalahnya dengan
teori ini adalah, apakah "waktu masa depan" memiliki frekuensinya
sendiri ? Sains tidak bisa menjawab ini.
Law of Large Numbers
Teori ini diajukan oleh seorang skeptis bernama Robert Todd
Carroll, penulis buku "The Skeptic's Dictionary'. Ia mengatakannya sebagai
berikut : "Katakanlah, kemungkinannya adalah satu juta banding satu ketika
seorang individu memimpikan sebuah pesawat jatuh dan keesokan harinya sebuah
pesawat benar-benar jatuh. Dengan adanya 6 milyar manusia yang memiliki sekitar
250 tema mimpi yang berbeda setiap malam, maka pastilah akan ada sekitar 1,5
juta manusia dalam sehari yang memiliki mimpi yang sepertinya bersifat
meramalkan."
Bagi Robert, precognitive dream hanyalah sebuah kebetulan
atau sebuah probabilitas yang muncul karena hukum statistik.
Teori ini, sejalan dengan argumen lain yang menyebutkan
bahwa keberhasilan precognitive dream sebenarnya terjadi karena bias memori.
Bias Memori
Artinya, Memori kita hanya akan mengingat mimpi yang menjadi
kenyataan dan melupakan mimpi yang tidak menjadi kenyataan.
Ketika sebuah peristiwa terjadi, otomatis, sang pemimpi
hanya mengingat mimpinya yang akurat dan ia akan berkata,"Aku sudah pernah
memimpikannya !" Tapi ketika mimpi itu tidak menjadi kenyataan, ia akan segera
melupakan mimpi tersebut. Teori ini mungkin ada benarnya juga. Dalam salah satu
eksperimen, subyek diminta untuk menulis mimpi mereka dalam sebuah buku
catatan. Hal ini dilakukan untuk mencegah memori selektif bekerja. Setelah
dibandingkan dengan peristiwa nyata, mimpi yang tercatat tersebut sepertinya
kehilangan akurasinya. Kesimpulannya, kita bermimpi banyak. Banyak yang tidak
akurat dan sebagian akurat. Semuanya hanyalah kebetulan semata. Ya, saya tahu,
kalian tidak puas dengan teori-teori ini. Tapi memang sains tidak bisa
menjelaskan fenomena ini dengan sempurna. Mau apa lagi ? Sekarang, setelah sedikit
mengasah otak dengan beberapa teori yang rumit, kita akan masuk ke dalam
pertanyaan terpentingnya, yaitu : why me ?
Mengapa precognitive dream terjadi ?
Ini adalah pertanyaan yang banyak ditanya oleh para pemimpi
precognitive. Sekali lagi, para peneliti tidak memiliki jawaban yang pasti.
Mereka hanya mengatakan, Mungkin mimpi itu terjadi sebagai bagian dari
mekanisme pertahanan hidup manusia. Dengan suatu cara, mereka diingatkan akan
bahaya yang akan datang. Banyak kesaksian yang menyebutkan adanya perubahan
jadwal perjalanan tiba-tiba yang menyelamatkan seseorang dari bencana - Ingat
film Final Destination. Lalu, kalian mungkin akan berkata,"Ya, itu mimpi
yang berkaitan dengan diri kita sendiri. Bagaimana dengan mimpi yang berkaitan
dengan orang lain ? Bagaimana jika saya memimpikan mengenai kecelakaan yang akan
dialami oleh sahabat saya ?" Saya tidak menemukan jawaban pertanyaan ini
dari para ilmuwan. Tapi jika kalian bertanya kepada saya, maka saya akan
menjawab : "Tuhan ingin memakai kalian untuk memperingatkan mereka. Jadi,
angkat teleponmu dan hubungi dia !"
Precognitive Dream - Last Words
Kita bukan sebuah robot yang terdiri dari mesin-mesin
mekanis. Kita adalah manusia yang terdiri dari darah, daging dan roh. Karena
itu, manusia disebut juga makhluk spiritual.
Siapa yang bisa mengambil roh manusia dan menelitinya di
bawah mikroskop ? Sebagai makhluk spiritual, adalah hal yang wajar jika kita
mengalami beberapa pengalaman spiritual. Jika kita bisa memahami ini dan
menerimanya apa adanya, maka mungkin kita bisa menjadi lebih tenang dan
bahagia.
Dalam kasus precognitive dream, saya lebih suka menganggapnya
sebagai wilayah spiritual dibanding sains.